berikut resume dari novel nya .
Novel dengan tema keluarga dan kampung halaman, adalah salah satu
genre yang saya suka. Diantaranya novel “Hafalan Shalat Delisa” ini.
Penulisnya Tere Liye, mengambil setting tempat di Aceh tepatnya Lhok
Nga, salah satu areal terparah yang terkena hantaman tsunami pada 2004.
Pemeran utama pada cerita ini adalah seorang anak 5 tahun bernama
Alisa Delisa. Berkarakter lucu, polos sesuai dengan usianya, dan yang
paling menonjol adalah karakter cerdas dan pintar bersyukur. Dalam novel
ini, dikisahkan Delisa tinggal bersama Ibu, dan ke tiga kakaknya yang
semuanya perempuan. Ayahnya seorang teknisi kapal tambang minyak. Selalu
ikut kapal mengelilingi laut lepas dan terbiasa singgah antarbenua.
Pekerjaan ayahnya ini membuat sang ayah kerap pergi selama 3 bulan, dan
kembali selama 2 pekan kecuali cuti Ramadhan dan Idhul Fitri.
Dikisahkan pula, Delisa saat itu sedang berusaha keras menghafal
bacaan shalat. Di sekolahnya, anak-anak seusianya memang sudah
diharuskan hafal bacaan shalat oeh Ibu Guru. Suatu hari mereka akan
dites kelayakan bacaannya. Ibu Delisa menyiapkan hadiah kalung untuk
setiap anaknya yang berhasil lulus tes bacaan shalat. Termasuk Delisa.
Dan cerita sedih bermula dari kalung itu.
Novel ini memang sangat bernafas haru biru. Tere Liye menghadirkan
cerita dengan bahasa yang sangat simpel, layaknya bahasa anak-anak.
Namun simplisitasnya itu tidak samasekali mengurangi kekhusyu’an
membaca. Bahkan ceritanya yang sangat menyentuh hati ini, berpotensi
membuat pembaca menangis haru, tidak hanya sekali, tetapi bisa
berkali-kali.
Suatu hari, ketika waktu yang ditentukan tiba, Delisa menghadap Ibu
Guru untuk mempraktikkan sekaligus membaca hafalan shalatnya. Tepat
ketika Delisa akan sujud, peristiwa 26 Desember 2004 itu membatalkan
sujudnya sekaligus menghancurkan sebagian besar keluarga, sahabat, dan
kampung Lhok Nga Delisa. Ibu dan seluruh kakaknya meninggal. Desanya
hancur lebur tiada sisa. Namun Delisa selamat, meski sebelah kakinya
harus diamputasi. Akhirnya, Delisa membangun masa depan yang sama sekali
baru, berdua, bersama ayahnya.
Kabar mengenai meninggalnya kakak-kakaknya satu persatu ditelan pahit
oleh kedua ayah dan anak itu. Satu kabar yang lama tak jelas, adalah
keberadaan Ibunya. Apakah ibunya masih hidup? Sedangkan saat itu Ibu
sedang menunggu delisa di depan pintu kelas, menggenggam kalung hadiah
yang siap disematkan tepat setelah Delisa berhasil praktik shalat.
Delisa sendiri, adalah anak yang tidak pernah menangis, mengeluh
apalagi stress atas kejadian yang menimpanya. Meninggalnya orang-orang
yang ia sayangi, amputasi kakinya dan semua kenyataan pahit itu
dihadapinya dengan hati yang lapang. Terlihat dan terasa sekali
keikhlasannya, bahkan takjub sekali ketika kita mambaca caranya
menghadapi kenyataan pahit. Ia pandai mengambil hikmah, pandai
bersyukur, dan pandai menyembuhkan hati yang luka. Secara implisit, bagi
Delisa, kehidupan sepahit apapun tak ada gunanya disesali. Hal yang
harus dilakukan adalah survive. Menyelamatkan masa depan dengan cara melanjutkan hidup penuh kesabaran dan keikhlasan.
Keyakinan Delisa adalah Allah tidak akan jauh dari hamba yang beriman
dan bertaqwa. Kasih sayangNya senantiasa dekat kepada setiap hamba yang
sabar.
Delisa, suatu hari bermimpi bertemu Ibunya di taman nan indah. Delisa
mengatakan ingin ikut Ibu, namun sang ibu mengatakan bahwa delisa harus
selesaikan shalatnya, baru bertemu Ibu. Dan ternyata mimpinya menjadi
kenyataan. Ketika sedang camping kecil dengan teman-teman pengajiannya,
Delisa shalat ashar dengan sempurna. Itu adalah shalatnya yang sempurna
setelah tsunami. Seusai shalat, Delisa izin mencuci tangan di sungai,
saat itu ia melihat kilauan emas dibalik semak. Ia mendatanginya,
ternyata itu adalah kalung dengan huruf D, kalung yang pernah dibeli Ibu
untuknya. Kalung itu tergeletak di tangan yang sudah menjadi tulang
belulang. Ketika ia mengambilnya, kakinya terpeleset,dan ia jatuh ke
sungai.
Novel ini sangat baik dibaca oleh orang yang sedang ingin merefresh
dirinya. refresh yang saya maksud adalah refresh pola pikir. Misalnya,
kita yang hidupnya di tengah kota besar, hidup serba ada, tapi kesibukan
padat sehingga sering terasa hidup ini sangat pragmatis. semuanya
individualis dan tujuannya demi mencapai kepuasan pribadi. jarang
sekali terpikirkan oleh kita sebagai anak, mengucapkan kalimat “aku sayang Ibu karena Allah”
langsung kepada sang ibu. Jarang sekali kita berbagi pada yang
membutuhkan, dan yang paling menohok, jarang sekali kita bersyukur….atas
nikmat tak terhitung yang Allah limpahkan. Nah, Delisa hadir
mengajarkan kita (terutama saya) dengan caranya sebagai seorang anak
kecil. Malu saya membacanya, sangat amat malu..dan sungguh terlalu
memalukan..
=============================
MOHON MAAF, UNTUK LINK DOWNLOAD BELUM TERSEDIA,
sedang dalam proses upload.
link download sabar ya
bilang aja pelit ..
:@